Selasa, 29 September 2009


Bookmark and Share

Rabu, 23 September 2009

Selasa, 22 September 2009

Mari Tengok Ke Belakang Untuk Maju Ke Depan

Beberapa menit lagi tahun 2008 akan kita tinggalkan, dan kita akan melangkah ke tahun 2009. Di luar sana banyak yang melakukan pesta untuk menyambut detik-detik datangnya tahun 2009. Tapi apakah pesta itu perlu dilakukan? Baik, di sini aku tidak akan membahas masalah urgensi pesta menyambut datangnya tahun baru. Yang lebih penting menurut aku, bagaimana kita memanfaatkan momen ini untuk merenung dan berpikir maju.

Mari kita tengok ke belakang. Apa sajakah yang sudah kita lakukan selama tahun 2008 ini? Seberapa besar manfaat yang sudah kita berikan untuk orang lain? Seberapa besar waktu yang kita miliki untuk meraih kemuliaan yang sesungguhnya? Dan macam pertanyaan lain yang bisa kita tentukan sendiri, tergantung kita masing-masing. Tentunya ini sebuah perntanyaan yang bisa menuntun kita pada sebuah parameter keberhasilan perjalanan hidup kita selama 2008. Kalau sudah begini, seberapa maju langkah kita jika dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya? Pastinya, cuma diri kita yang bisa menjawabnya.

Sekarang, mari kita melangkah maju ke depan. Kalau kita semua sudah tahu, paham dan sadar akan kelemahan dan kelebihan kita. Mari kita lakukan perubahan. Yang kemaren jelek, mari diperbaiki. Yang kemaren sudah baik, mari dipertahankan dan dibuat semakin baik lagi. Mari kita buat planning di tahun mendatang. Dengan ini, kita akan mempunyai rel/ targetan yang jelas dalam melangkah.

So, mari kita bersama menginstrospeksi diri untuk menyusun sebuah proyeksi di tahun mendatang. Ada sebuah ungkapan (bahkan kalau gak salah adalah sebuah hadits), “Kalau hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka termasuk orang yang beruntung. Kalau hari ini sama dengan kemarin, maka termasuk orang merugi. Dan, kalau hari ini lebih buruk dari kemarin, maka termasuk golongan orang celaka”. Tidak mau kan merugi? Apalagi celaka..

Selamat Tahun Baru 2009.
Semoga kita menjadi orang yang beruntung.
Bookmark and Share

Kamis, 17 September 2009

SBY Kepada Khamenei: Sikap Indonesia di DK PBB Hasil Perenungan

Presiden RI Susilo Bambang YUdhoyono hari Selasa (11/3) sore waktu setempat mengunjungi Supreme Leader atau pemimpin tertinggi spiritual Iran, Ayatollah Ali Khamenei, di kantornya yang berada di kota Teheran.


SBY bertemu dengan imam tertinggi Iran itu, didampingi Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad. Turut pula mendampingi Presiden adalah Menlu Hassan Wirajuda, Mensesneg Hatta Rajasa, Menteri Agama Maftuh Basyuni, Wakil Ketua DPD-RI Erman Gusman, serta anggota DPR-RI, Arief Mudasir.


Pertemuan berlangsung akrab, sekitar 1 jam. Ayatollah Ali Hosayni Khamenei lahir bulan Juli tahun 1939, Mashhad, Provinsi Razavi Khorasan. (win, nas)

Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatullah Ali Khamenei menyatakan, dengan persatuan dan perluasan kerjasama ilmiah, ekonomi, budaya, dan diplomatik, dunia Islam dapat berubah menjadi kekuatan besar.

Ali Khamenei menilai AS selalu menggunakan logika represif seraya mengatakan, menyerah di hadapan kaum arogan hanya akan menimbulkan keterbelakangan.

Ali Khamenei menilai sikap pemerintah Indonesia terkait resolusi baru anti-Iran oleh Dewan Keamanan PBB sebagai sebuah langkah berani. Ditegaskan beliau , “Sudah pasti keputusan ini akan meningkatkan kredibilitas bangsa dan pemerintah”. Indonesia menyatakan abstain terhadap resolusi anti-Iran oleh Dewan Keamanan PBB yang dirilis beberapa waktu lalu.

Di bagian lain pernyataannya, Ali Khamenei menandaskan, Gerakan Non-Blok merupakan simbol independensi negara-negara dunia. Beliau juga berharap gerakan ini terus tampil proaktif sebagaimana tujuan yang telah ditetapkan.

Menyinggung upaya AS dan Zionis-Israel untuk memberangus bangsa Palestina, Ali Khamenei mengatakan, “Perjuangan bangsa Palestina menunjukkan bahwa bangsa ini hidup dan berani, dan dunia Islam harus mendukung mereka”.

Di lain pihak, Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, pada pertemuan tersebut menilai sikap pemerintah Indonesia terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB sebagai hasil dari perenungan dan pemikiran yang telah dilakukan sebelumnya.

SBY mengatakan, “Di Dewan Keamanan PBB, Indonesia mengambil sikap yang berbeda tentang kasus nuklir Iran mengingat tidak ada alasan untuk menjatuhkan sanksi terhadap Tehran.” Ditegaskannya pula bahwa masalah ini harus dipandang sebagai bagian dari masalah teknis di Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Ia menambahkan, perlawanan terhadap unilateralisme, ketidakadilan di dunia, serta perluasan kerjasama dengan negara-negara Islam dan anggota GNB merupakan bagian dari prioritas politik Indonesia.

Menyinggung kekayaan khazanah budaya dan peradaban Iran, SBY menyampaikan kesiapan Indonesia untuk memperluas kerjasama di berbagai bidang dan keinginan Jakarta untuk menimba pengalaman ilmiah Tehran.
Bookmark and Share

100 Orang Paling Berpengaruh Versi Time Magazine

Memasuki 2008, majalah Time meluncurkan edisi khusus dengan mencantumkan 100 manusia paling berpengaruh di dunia dalam beberapa kategori selama 2007.

Ada beberapa nama yang memang secara faktual berpengaruh seperti Hu Jintao dan Ali Khamenei, namun ada pula beberapa nama yang terasa disisipkan sebagai bagian dari propaganda Amerika. Menggelikan, ketika nama super populer Ahamdinejad tidak tercantum di dalamnya.

Berikut nama-namanya:

Pemimpin dan Revolusionaris

Raja Abdullah bin Abdul Aziz al-Saud

Archbishop Peter Akinola

Omar Hassan al-Bashir

Pope Benedict XVI

Osama bin Laden

Michael Bloomberg

Raul Castro

Hillary Clinton

Queen Elizabeth II

Sonia Gandhi

Hu Jintao

Ayatullah Ali Khamenei

Liu Qi

Tzipi Livni

Angela Merkel

Barack Obama

Nancy Pelosi

General David Petraeus

Condoleezza Rice

John Roberts

Arnold Schwarzenegger

Pahlawan dan Pionir

Maher Arar

Wesley Autrey

Tyra Banks

Warren Buffet

Youk Chhang

George Clooney

Tony Dungy

Elizabeth Edwards

Drew Gilpin Faust

Roger Federer

Michael J. Fox

Timothy Gittins

Thierry Henry

Garry Kasparov

Amr Khaled

Judith Mackay

Chien-Ming Wang

Oprah Winfrey

Zeng Jinyan

Ilmuwan dan Pemikir

Paul Allen

Chris Anderson

Elizabeth Blackburn

Richard Dawkins

Frans de Waal

Al Gore

Monty Jones

John Mather

Douglas Melton

Steven Nissen

Tullis Onsott

Svante Paabo

Lisa Randall

Klaus Schwab

Kari Stefansson

Alan Stern

Neil deGrasse Tyson

J. Craig Venter

Nora Volkow

Artis dan Penghibur

Cate Blanchett

Sacha Baron Cohen

Leonardo diCaprio

Alber elbaz

America Ferrera

Tina Fey

Simon Fuller

Brian Grazer

John Mayer

David Mitchell

Kate Moss

Youssou N’Dour

Anna Netrebko

Rosie O’Doneell

Brad Pitt

Shonda Rhimes

Nora Roberts

Rick Rubin

Martin Scorsese

Justin Timberlake

Kara Walker

Brian Williams

Pendiri dan Raksasa

Bernard Arnault

Richard Branson

Rhonda Byrne

Steven Cohen

Clara Furse

Ho Ching

Chad Hurley & Steven Chen

Steve Jobs

Ken Lewis

Erik Lie

Pony Ma

Lakshmi Mittal

Shigeru Miyamoto

Michael Moritz

Indra Nooyi

Cyril Ramaphosa

Philip Rosedale

Stephen Schwarzman

Katsuaki Watanabe

(http://www.time.com/time/specials/2007/time100)
Bookmark and Share

MAN Hormati Perempuan Tanpa Gembar Gembor Feminisme

Marzieh Marzieh Vahid-Dastjerdi adalah perempuan pertama yang menjadi menteri di Iran. Sebelumnya, perempuan mendapatkan posisi sebagai salah satu wakil presiden sejak Khatami hingga Ahmadinejad pada periode pertama.

Marzieh Vahid-Dastjerdi lahir di Teheran tahun 1959. Ia memang bukan perempuan sembarangan. Dia seorang guru besar di Universitas Teheran dan mantan anggota parlemen. Dia adalah menteri perempuan pertama di Iran sejak revolusi Iran tahun 1979, tetapi merupakan menteri perempuan ketiga sepanjang sejarah Iran setelah Farrokhroo Parsa dan Mahnaz Afkhami.

Marzieh mempelajari ilmu kedokteran di Universitas Teheran. Dia kemudian mengambil spesialisasi ginekologi dan terus mendalami bidang itu sehingga menjadi salah seorang pakar ginekolog di Iran. Karena itu, pencalonan dia oleh Presiden Mahmoud Ahmadinejad sebagai Menteri Kesehatan dan Pendidikan Medis memang sesuai dengan kapabilitas Marzieh.

Pada pemungutan suara di Majlis atau parlemen Iran, Marzieh mendapatkan dukungan 175 suara, 82 suara menolak, dan 29 suara abstain. Hasil itu berarti secara mayoritas anggota Majlis setuju dengan penunjukan Marzieh sebagai Menteri Kesehatan dan Pendidikan Medis.

Alireza Marandi, salah seorang anggota parlemen dari daerah pemilihan Teheran, seperti dikutip PressTV, mengungkapkan keyakinannya bahwa Marzieh Vahid-Dastjerdi akan berhasil dalam mewujudkan berbagai rencananya.

”Keadilan di bidang kesehatan adalah satu dari rencana paling penting dari Marzieh Vahid-Dastjerdi,” ungkapnya.

Aktivis sejak muda

Meski bukan seorang pesohor, reputasi Marzieh sebagai ginekolog sangat diakui. Sejak muda Marzieh juga merupakan aktivis yang giat menyuarakan kepentingan orang banyak. Pada tahun 1993, misalnya, dia bersama beberapa temannya mendirikan Asosiasi Dokter Islam, sebuah partai politik.

Sebelumnya, pada pemilihan umum tahun 1992, Marzieh terpilih menjadi anggota Majlis-e Shora-ye Islamic (Majelis Konsultatif Islam/Parlemen Iran) mewakili Teheran (1992-1996). Dia terpilih kembali sebagai anggota Majlis tahun 1996. Bahkan, Marzieh kemudian terpilih sebagai Ketua Komite Majlis untuk urusan Perempuan, Keluarga, dan Pemuda pada tahun 1997.

Sebagai politisi, Marzieh tidak menanggalkan karakter aktivisnya. Pada Mei 1999, misalnya, dia berpidato di depan sebuah aksi unjuk rasa di Teheran untuk memprotes larangan menggunakan jilbab di parlemen Turki. Dia mengecam keras pelarangan itu sebagai sebuah permusuhan terhadap Muslim dan sebuah kejahatan terhadap hak-hak asasi manusia.

Kiprahnya di parlemen pun cukup menonjol. Marzieh membantu menyusun sebuah rancangan aturan pemisahan pasien berdasarkan jenis kelamin di rumah sakit-rumah sakit dan lembaga-lembaga media agar sesuai dengan syariah.

Rencana itu, jika dijalankan, mengharuskan adanya rumah sakit-rumah sakit khusus untuk perempuan, dengan seluruh dokter, para perawat, dan anggota stafnya adalah perempuan. Itu secara otomatis merupakan upaya untuk meningkatkan derajat perempuan. Selain juga guna mendorong perempuan Iran untuk berpendidikan tinggi, berkeahlian, dan mempunyai keterampilan.

Akan tetapi, usulan itu kemudian ditolak karena alasan biaya, setelah mendapat banyak kritik dari para dokter dan tenaga-tenaga profesional kesehatan. Meski demikian, sebuah rencana untuk memisahkan rumah sakit di Iran berdasarkan jender, yang didasarkan atas usulan asli Marzieh tersebut, kemudian diberlakukan tahun 2006.

”Perempuan harus berperan lebih besar dalam urusan-urusan negara,” ungkap Marzieh ketika menempuh tahapan semacam uji kelayakan dan kepatutan di depan parlemen terkait pencalonannya sebagai menteri kesehatan.

Pemikiran Marzieh yang ingin memisahkan rumah sakit perempuan dengan rumah sakit laki-laki itu oleh beberapa kalangan diartikan sebagai pandangan yang konservatif. Oleh karena itulah, para pejuang hak-hak perempuan di Iran meragukan Marzieh akan giat memperjuangkan hak-hak perempuan Iran.

Kesehatan perempuan

Marzieh yang sebelumnya tidak pernah berkiprah di pemerintahan hadir di jajaran kabinet dengan sebuah rencana besar selama empat tahun masa jabatannya sebagai menteri kesehatan. Dia berjanji meningkatkan fokus sektor kesehatan pada ”Semua hal yang berkaitan dengan kesehatan perempuan.”

”Saya bermaksud memperluas cakupan asuransi kesehatan, berbagai fasilitas kesehatan di desa-desa, dan wilayah-wilayah yang dekat dengan perkotaan,” paparnya, seperti diberitakan portal bisnis Maktoob Business.

Lebih khusus Marzieh ingin agar Iran bisa meningkatkan ketahanan dan penanganan yang lebih baik atas penyakit-penyakit mematikan, seperti diabetes, kanker, gangguan jantung, dengan tanpa melupakan penyakit-penyakit menular, misalnya flu babi dan flu burung.

Terpilihnya Marzieh sebagai menteri kesehatan bermakna besar bagi sektor kesehatan Iran karena setengah dari pekerja di sektor ini adalah perempuan. Di samping itu, Iran juga memiliki sekitar 1,6 juta perempuan mahasiswi dan perempuan pelajar.

”Saya rasa kaum perempuan hari ini mencapai impian yang sudah lama dinantikan, yaitu mempunyai seorang perempuan di dalam kabinet, untuk memperjuangkan tuntutan-tuntutan mereka. Ini adalah peristiwa langka dan penting bagi kaum perempuan. Oleh karena itulah, saya menegakkan kepala saya,” kata Marzieh, seperti dikutip surat kabar Gulf Daily News.

Bagi kalangan lebih luas, kehadiran Marzieh sebagai perempuan menteri kabinet akan memperkuat klaim-klaim Pemerintah Iran selama ini mengenai kesetaraan antara perempuan dan laki-laki di negara republik Islam itu.

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad pun tanpa perlu berkampanye lebih keras langsung menunjukkan bahwa dirinya tidak antiperempuan sebagaimana digembar-gemborkan sejumlah media Barat.

Hal itu sekaligus menjadi bukti bahwa dalam ajaran agama Islam pun tidak ada segregasi antara laki-laki dan perempuan dalam banyak hal.(Sumber: Reuters/iranonline/BBC/Kompas)
Bookmark and Share

Minggu, 06 September 2009


Masalah Palestina menjadi sedemikian berlarut-larut tidak lepas dari “peran” negara-negara Muslim, khususnya negara-negara Arab, yang hanya bisa diam membisu menyaksikan kepongahan Israel. Para pemimpin negara-negara Arab—yang negara-negara mereka sebenarnya juga terancam terkena “penggusuran” proyek pendirian Israel Raya—malah berbondong-bondong, baik langsung maupun tidak langsung, mengakui eksistensi negara Israel dan menggantungkan nasib mereka pada Amerika Serikat, yang sejatinya merupakan induk semang Israel.

Di tengah-tengah ketidakacuhan para pemimpin Muslim itu, Imam Khomeini bangkit menyuarakan jihad melawan Amerika dan Israel. Selama masa hidupnya, Imam Khomeini selalu berada di garis depan perjuangan membela kaum tertindas, khususnya rakyat Palestina yang teraniaya.

Buku ini berisi pandangan Imam Khomeini mengenai masalah Palestina, yang dirangkum dari berbagai khotbah, ceramah, wawancara, maupun ucapan beliau. Dalam buku ini, Imam Khomeini benar-benar menumpahkan segala pikirannya mengenai permasalahan Palestina. Beliau juga sangat menekankan pentingnya persatuan negara-negara Muslim bagi penyelesaian masalah itu. Sebagaimana kata beliau, “Jika kaum Muslim bersatu dan masing-masing dari mereka mengguyurkan seember air pada Israel, maka Israel akan tersapu; namun masih saja mereka tak berdaya di hadapannya.”

Imam Khomeini, sebagaimana yang dapat dibaca dalam buku ini, jelas bukan sekadar seorang ulama atau penggerak salah satu revolusi terbesar di muka bumi ini. Beliau pada hakikatnya juga seorang futurolog yang memiliki kemampuan membaca dan memprediksi masa depan. Apa yang terjadi pada awal tahun 2000-an, terutama nasib tragis yang menimpa bangsa Palestina, Afghanistan, dan Irak, sudah jauh-jauh hari diperkirakan oleh Imam Khomeini. Namun, Imam tentu tak hanya mampu memprediksi, melainkan juga menawarkan solusi bagi bangsa-bangsa Muslim, khususnya bangsa Palestina.
—Dr. Riza Sihbudi

Imam Khomeini merupakan tokoh sentral dalam Revolusi Islam Iran 1979 yang mengubah secara fundamental tatanan politik, ekonomi, budaya domestik, regional, dan internasional. Buku ini merupakan buku pertama dalam bahasa Indonesia yang mengemukakan informasi mengenai ucapan, pandangan, dan sikap Imam Khomeini terhadap isu Palestina secara lengkap. Pandangan dan sikap Imam Khomeini terhadap isu Arab-Israel terasa relevan. Bangsa-bangsa Muslim harus bersatu menghadapi Israel. Perlu suatu terobosan politik yang berani dari negara-negara Arab dan Dunia Islam, sebagaimana diusulkan Imam Khomeini, dalam membantu rakyat Palestina.